Select Menu

ads2

Kece

News

Wisata

Kuliner

Ngakak

Video

Rileks

Gallery

Saatnya menikmati tidur, diri ini sudah lelah, lelah sekali, ingin suasana baru dan memikirkan diri, bukan pusing memikirkan yang seharusnya sudah tidak perlu dipikirkan.

Mari tidur.... tidur yang nyenyakkkk....




KESANAKEMARI.COM - Percaya atau tidak, namun ada sebuah penelitian terbaru yang menguji kesetiaan pria melalui panjang jarinya. Dalam penelitian tersebut, para ahli meneliti perbedaan panjang jari telunjuk dan jari manis pria, kemudian dikaitkan dengan perilaku sosialnya. Menarik bukan? 

Studi ini baru saja dipublikasikan pada jurnal Personality and Individual Differences edisi Maret 2015 dan dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh DS Moskovitz. Para peneliti menjelaskan, rasio panjang jari telunjuk dan jari manis yang disebutkan dengan rasio 2D:4D dipengaruhi oleh eksposur androgen (sifat yang menghasilkan keturunan jantan) sejak dari janin. Rasio 2D:4D yang besar mengindikasikan eksposur androgen yang besar. 

"Kami menggunakan data peristiwa untuk meneliti hubungan antara rasio 2D:4D dengan perilaku sosial. Para partisipan menyelesaikan banyak data terkait perilaku mereka dalam perilaku yang alami. Peristiwa ini termasuk jenis kelamin orang yang berinteraksi dengan dirinya," tulis para peneliti dalam laporannya. 

Nah, penelitian tersebut menemukan bahwa para pria yang memiliki jarak antara jari telunjuk dan jari manis yang relatif sempit cenderung memiliki keramahan yang tinggi terhadap wanita. Intinya, apabila jari telunjuk dan jari manisnya memiliki kisaran panjang yang sama, maka ia cenderung tidak senang berargumen dan lebih cenderung memiliki sifat penyayang. 

Kemudian, jarak yang cukup besar antara kedua jari tersebut nengindikasikan bahwa pria cenderung kurang ramah terhadap wanita. Namun demikian, rasio seperti ini tidak terjadi pada kaum wanita. Sehingga, Anda jangan khawatir dengan panjang jari Anda. 

"Rasio 2D:4D tidak mempengaruhi perilaku sosial wanita. Lingkungan hormonal yang berkembang pada pria sejak lahir kemungkinan dapat mempengaruhi perilaku sosial saat dewasa pada konteks spesifik," jelas para peneliti. (kompas.com/scient direct)

-





KESANAKEMARI.COM - Sabtu, 14 februari 2014, mendapat kejutan kue Valentine's Day dari Public Relation Sutanraja Hotel & Concention Center, Leydi Regah. Terima kasih Ley...





McDonald's Manado berada di kawasan Pantai Megamas. Selalu meriah ketika tengah malam tiba hingga matahari terbit.


KESANAKEMARI.COM - Dorongan seksual dan fantasi seksual umumnya memang meningkat di masa remaja. Walau demikian, sesungguhnya secara emosional mereka masih sangat jauh dari siap untuk aktivitas seks berikut segala konsekuensinya.

Ada banyak faktor yang membuat remaja mencoba-coba melakukan aktivitas seksual, tetapi banyak juga yang beralasan takut ditinggal pacar. Ruli (21), mengakui meski ia sudah tahu dampak seks pranikah, tapi ia tetap melakukannya karena takut kehilangan pacarnya.

"Karena saya sayang sama dia dan takut kehilangan kalau menolak," kata wanita yang melakukan seks pranikah saat ia duduk di bangku SMA ini.

Tekanan dari teman sebaya yang menganggap berhubungan seksual dengan pacar adalah gaya hidup modern juga ikut berperan dalam gaya pacaran remaja. Meski demikian, menurut psikolog Roslina Verauli, kontrol tetap ada pada diri remaja itu sendiri.

"Semua dimulai dari diri sendiri, terutama dalam memilih teman yang tepat. Teman yang baik pasti dapat membuat kita jadi pribadi yang lebih baik, bukan justru menjerumuskan," katanya.

Pengaruh teman sebaya memang sangat besar dalam perilaku anak. Remaja yang ingin berusaha menjaga keperawanannya mungkin dianggap kuno oleh teman-temannya. Dalam hal ini remaja perlu dibangun kepercayaan dirinya agar tidak mudah terpengaruh dan ikut-ikutan tren yang tidak sehat.

"Kepercayaan dirinya perlu dibangun melalui eksistensi atau pencapaian mereka di bidang tertentu yang mereka suka. Remaja juga sebaiknya punya aktivitas fisik dan olahraga secara rutin sehingga energi libido dapat tersalurkan," tambah psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo

Para remaja juga harus diberi pemahaman apa efek yang mungkin dihadapinya jika ia melakukan seks pranikah. Selain potensi penyakit menular, mereka juga harus mengetahui bahwa jika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan, membesarkan anak merupakan tanggung jawab yang serius.

Kehangatan relasi anak dengan orangtua, menurut Vera juga harus dibentuk sejak anak kecil sehingga mereka dengan mudah mengutarakan apa pun yang meresahkan, termasuk tentang seksualitas.

"Remaja juga perlu diajarkan untuk respect terhadap dirinya sendiri sehingga tidak sembarang membolehkan dan membiarkan apapun terjadi pada dirinya," kata Vera.

Menurut sebuah survei, banyak remaja melakukan hubungan seks yang belum waktunya itu di rumah karena tidak ada yang mengawasi. Karena itu anak harus diberi aturan untuk menghindari situasi berduaan di rumah atau kamar.

Meski demikian, terkadang sulit bagi remaja untuk menolak keinginan pacarnya. "Ajari anak untuk menunjukkan sikap tidak mau, menolak dengan tegas. Apa yang dikatakan atau ditunjukkan dari bahasa tubuh harus selaras. Kalau tidak justru akan memancing pasangannya," kata psikolog Anna Surti Ariani.

Jika sampai terjadi pemaksaan atau kekerasan dalam pacaran, remaja harus berani untuk melawan dan melindungi dirinya.  (kompas.com)

KESANAKEMARI.COM - Dokter keluarga di Inggris diminta meresepkan kehidupan seks aktif untuk pasien yang membutuhkan olahraga. Dokter juga perlu merekomendasikan menari atau pun memotong rumput agar cukup olahraga.

Olahraga sering dipandang remeh sebagai obat dewa yang khasiatnya lebih ampuh dari obat. Uang yang dipakai untuk berobat penyakit berat seperti kanker payudara, demensia, penyakit jantung pun bisa dihemat banyak berkat olahraga.

Meskipun demikian, Academy of Medical Royal Colleges menegaskan dokter keluarga tak berhak mengintervensi kehidupan seks pasiennya kendati aktivitas seks juga bisa dikatakan olahraga.

Lembaga dari Inggris itu mengatakan aktivitas sehari-hari sejatinya mengurangi risiko kanker payudara sampai 25 persen, demensia sampai 30 persen, penyakit jantung sampai 40 persen dan patah tulang pinggul sampai 50 persen.Kendati begitu, 56 persen orang Inggris gagal memenuhi saran minimum olahraga 30 menit lima kali seminggu.

Scarlett McNally, konsultan bedah ortopedi dari Eastbourne District General Hospital Sussex menyebutkan bahkan olahraga kecil dapat membuat perbedaan besar. Untuk beberapa jenis penyakit, olahraga itu sama efektifnya dengan obat untuk mengalahkan penyakit. Termasuk untuk menyembuhkan depresi.

"Terlalu banyak pasien membayar mahal biaya patah tulang dan penyakit kronis yang seharusnya bisa dicegah dengan gaya hidup aktif," katanya.
Academy of Medical Royal Colleges yang mewakili 220 ribu dokter di Inggris menyarankan pasien mulai berjalan kaki, naik tangga, jalan-jalan bersama anjing atau berhubungan seks.

"Ini mengenai masyarakat dan dokter yang percaya bahwa upaya kecil akan berarti.Olah raga adalah obat ajaib yang memandang kita langsung ke mata. Terlalu banyak pasien dan dokter yang melupakannya," kata Prof. Dame Sue Bailey, ketua Academy of Medical Royal Colleges. (kompas.com/daily mail)